Kisah Lelaki Luka

Puisi Khoshshol Fairuz Kisah Lelaki Luka

Kisah Lelaki Luka

Seorang lelaki menunjukkan dadanya yang berlubang

Padaku suatu malam

Ia berjalan menuju matahari

Yang tentu saja sedang berada di tempat lain

Bersama orang lain

“Kami telah lama membicarakan hangat dan senja, seperti bagian klise di dalam puisi atau cerpen. Kami juga tidak lupa membicarakan kehidupan nanti, punya rumah, lima orang anak yang lucu-lucu, sebuah bus dan lusinan mimpi.”

Ia berkata lewat air mata

Tubuhnya lemah pandangannya tanah

Laki-laki itu kalah

Ingatannya utuh

Tapi hatinya jatuh

“Anak muda, kau perlu menemuinya, sekarang, dan bilang padanya jika kau mampu hidup tanpa dia.”

Ia menatapku sepi

Sekosong jantungnya saat ini

“Siapa yang butuh dia!”

Lelaki itu lalu ambruk dikuasai rasa takut

Tentu saja darah yang keluar lebih mati dibandingkan sejarah

Menyaksikan kekasihnya sedang berada di tempat lain

Bersama orang lain

 

Jombang, tahun sekian

 

 

Rencana Rindu

Menurutku kita perlu sesekali menanam jarak ketika rindu tak kunjung tiba

Berjalan mundur seperti petani pada umumnya

Pantang kembali sebelum purnama tenggelam dan

Sesuatu yang tumbuh di tangan kiri kita lepas

Sehelai-sehelai sampai habis

Tertancap semua di hamparan dingin diairi sunyi

Kita perlu belajar jadi perindu yang baik, sayang

Mencoba tidak mengingat satu sama lain

Mencecap doa ketika bau hujan tiba-tiba bersatu dengan udara

Rasuk bersama napas kita

Menurutku kita harus berencana jauh

Seperti sepasang kekasih pada umumnya

Menemukan ruang yang kosong

Dan kedap suara

; jauh dari netra

 

Jombang, 2019

 

 

Lupa Luka Pula

Kami letakkan separuh ingatan pada tubuh puisi

Selembar yang terus kaubaca sambil meninggalkan hal yang belum tanggal

Memadat menjadi tumpukan diksi tak beraturan

Laun kuusaikan genggam robekannya

Di bagian kiri dadamu

Sebab perayaan luka butuh seseorang seperti kita

Untuk diajak menangis

Dan menghitung sisa air mata

Sebulan kemudian kami sudah amat asing

Bagaimana cara memeluk, dipeluk

Tapi kami ingat beberapa bait berhasil

Buat kami lupa sekarat

 

Jombang, 2019

 

Baca Juga: Teori Puisi Tradisional: Mimesis

 

Aku (Atau) Kau

// Aku adalah definisi jarak

Antara jantung dan degupmu

 

// Aku ialah udara

Dari napas yang kauhirup masuk dalam dada

 

// Aku desir dan gigil

Mampu rasuk tanpa antara

 

// Aku diksi

Yang sengaja resap pada pori-pori puisimu

 

// Aku senja pada kedua matahari

Yang tenggelam dalam matamu

 

// Aku angin kurus

Yang menelisik basah

Lalu turun di tengah lehermu

 

// Aku endapan air mata yang pampat

Mengeras menjadi cerita

 

// Aku duri yang tancap dan merobek paru-parumu

Kuletakkan sesak dan rindu sekaligus di sana

 

Aku adalah kau, kau aku, 2019

 

 

Lelaki, Malam, dan Mungkin Puisi

Tentu saja tidak ada kalimat abadi dari seorang lelaki

Kepada kekasihnya yang sedang baca buku

Tidak ada

Kecuali udara tengah dingin dan malam sudah tua

Dua orang itu bisa saling melepaskan baju

Duduk berjam-jam menghitung satu persatu bintang

Tak ada yang abadi untuk didengarkan dari mulut seorang lelaki

Saat itu, ketika kekasihnya bersandar di salah satu bagian dadanya

Tempat tidur menyerahkan kepada mereka

Definisi cinta dan nafsu

Bersisian menghadapi lenguh

Berganti, bergeser hingga peluh

Sekarang mereka berdua bertambah dekat dengan pagi

Lelaki sanggup menghirupnya pelan-pelan

Dengan mata terpejam dan rasa mati yang sempurna

 

Jombang, 2019

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 pemikiran di “Kisah Lelaki Luka”