5 Fakta Tentang Hokku, Sastra Jepang Kuno

Fakta Hokku, Sastra Jepang Kuno

Hokku merupakan salah satu seni sastra tradisional dari Jepang. Namun, ia kalah populer dibandingkan dengan Haiku. Keduanya sesungguhnya memiliki kaitan erat satu sama lain.

Hokku, yang lebih dulu hadir di peradaban kuno Jepang, memiliki keindahan yang tiada tara. Kemudian Haiku hadir menyempurnakannya di abad ke-19. Salah satu perbedaan antara keduanya adalah sumber bahan penulisan. Hokku menyerap segala sesuatu yang bersumber dari alam. Sedangkan Haiku bisa hadir dari ruang lingkup modern, beserta fasilitas fisik dan psikologi manusia modern.

Hokku memiliki ciri-ciri tiga baris, dengan masing-masing 5, 7, 5 suara (suku kata). Sementara untuk Haiku modern, pada dasarnya sama, tetapi bisa menggunakan di luar aturan tersebut, selama tidak berlebihan.

Setidaknya ada lima fakta tentang Hokku yang perlu diketahui. Apa saja itu?Berikut informasinya.

Hokku menggunakan pengalaman inderawi

Hokku
unsplash.com

Secara umum, manusia dilengkapi dengan sistem lima indera. Mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit yang memiliki kegunaan masing-masing. Meskipun tingkat fungsinya berbeda setiap orang, tetapi pada dasarnya sama.

Penggunaan indera yang dimiliki manusia adalah permulaan dari menulis Hokku. Mata menangkap warna-warni bunga di musim hujan; hidung menghidu wangi petrikor di hujan bulan Juni; telinga mendengar nyanyian burung hutan; lidah mencecap buah-buahan yang baru dipetik; dan kulit merasai lembabnya tanah hutan di musim semi.

Pengalaman dari indera itu kemudian ditransformasikan dalam bentuk Hokku. Pemilihan kata atau istilah yang tepat menjadi tantangan bagi penulis Hokku. Hal itu agar dalam batas aturan Hokku tidak akan membingungkan pembaca karena menggunakan kata-kata yang sedikit.

Mencintai alam adalah cara terbaik menulis Hokku

Hokku
unsplash.com

Sumber utama penulisan Hokku adalah alam. Untuk itu, cara terbaik adalah mencintai alam. Penulis Hokku biasanya menyenangi berada di hutan, tepi danau, pegunungan, pantai, dan lokasi lainnya. Mereka bukan hanya betah, tetapi juga mencintai interaksi langsung dengan alam.

Kemudian biarkan alam berbicara langsung dengan cara mereka sendiri. Tangkap perkataan alam dalam bahasanya masing-masing. Pengalaman itu akan menjadi bahan terbaik ketika menulis Hokku.

Baca Juga: 5 Jenis Hantu yang Mengganggu Para Penulis

Jangan biarkan pemikiran manusia tercampur ke dalam Hokku. Sebab bukan hanya mereduksi unsur alamiah dalam Hokku, tetapi juga membuat Hokku menjadi relatif berdasarkan pemikiran manusia yang berbeda-beda.

Maka, latihan mendekat kepada alam adalah sesuatu yang niscaya. Kemurnian bahasa alam akan tampak indah tatkala ditulis oleh seseorang yang menangkap isyarat alam dengan inderanya.

Hokku menggunakan tanda baca yang sederhana

Hokku
unsplash.com

Biasanya Hokku yang tertulis dalam bahasa selain Bahasa Jepang—terutama Bahasa Inggris, menggunakan tanda baca yang biasa digunakan secara umum. Misalnya menggunakan tanda pisah (—), tanda titik koma (;), dan tanda titik (.).

Penggunakan tanda baca yang sederhana itu agar Hokku tampak dalam keaslian dan kelembutannya. Di samping itu juga agar tidak ada gangguan yang tidak penting ketika membacanya. Dan pada akhirnya makna dari Hokku tersebut bisa diserap oleh pembaca.

Tanda pisah pada Hokku biasanya digunakan untuk memisahkan frase penjelas yang lain, tetapi masih saling berhubungan. Itu agar Hokku menjadi semakin memiliki makna yang lebih utuh. Sementara tanda titik koma, memisahkan frase yang masih setara.

Sebagai contoh:

After the rain
Birds sing unseen—
So many notes.

by W. Keith Tims, Georgia

Barely dark;
The owl’s hoot muffled
By the snow.

by Donna Ferrell, Ohio

Hokku mencoba melampaui kata-kata yang tersurat

Hokku
unsplash.com

Dalam menulis Hokku, pemilihan kata adalah tantangan bagi penulis. Oleh sebab batasan aturan sebagaimana disebutkan di atas, maka penulis Hokku akan mencari kata lalu meramunya menjadi jalinan kata yang sederhana tetapi banyak makna.

Bagi pembaca, setelah membaca sebuah Hokku, ia akan merenung sejenak. Benaknya akan mencoba merasakan apa yang dikatakan oleh Hokku yang baru saja ia baca. Jika penggambaran sebuah suasana gunung, Hokku yang singkat akan membawa pembaca merasakan atmosfer pegunungan.

Sebuah Hokku bahkan mampu membuat seseorang memikirkannya berjam-jam sampai berhari-hari. Hokku yang bisa ditafsirkan dengan banyak makna membuat seseorang belajar untuk mencari hakikat dari segala sesuatu.

Bukan sekadar puisi, Hokku adalah jalan hidup yang dituliskan

unsplash.com

Beberapa ahli menganggap Hokku bukan puisi, tetapi sebuah jalan hidup. Di setiap musim memiliki Hokku-nya sendiri. Penyatuan dengan alam adalah pilihan hidup seseorang, dan Hokku menjadi pelengkap.

Hokku ditulis untuk mengabadikan momen tertentu. Sebab, setiap hari segala sesuatu berubah. Lewat belajar menulis Hokku, seseorang akan menyadari bahwa ia tidak sendiri. Ada bagian-bagian lain dari alam semesta yang eksis untuk saling berhubungan satu sama lain.

Baca Juga: 7 Olahraga Penunjang Aktivitas Menulis

Hokku mengajarkan cara hidup yang sederhana dan peduli dengan alam. Belajar menulis Hokku bukan hanya dalam hitungan hari, bulan, dan tahun. Belajar menulis Hokku adalah sepanjang hidup. Menangkap momen untuk diabadikan dalam gelas kaca yang beku. Sepanjang usia.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

170 pemikiran di “5 Fakta Tentang Hokku, Sastra Jepang Kuno”