Kanvas

Kanvas Ramandariska

“Selamat ya, Riana.”

“Ini luar biasa. Toyo pasti bangga padamu, Riana. Selamat!”

“Selamat Riana, Anda hebat. Semua pengunjung merasakan sensasi yang luar biasa. Terutama bagi mereka yang menggunakannya. Sekali lagi saya ucapkan selamat.”

Aku terus menyalami pengunjung yang mengucapkan selamat. Bahkan badanku harus beberapa kali menunduk untuk menghormati beliau-beliau yang sudah mengapresiasi pameran karya-karyaku yang pertama. Kantung di mataku semakin tampak jelas karena tertarik oleh senyumku yang tidak putus-putus sejak pameran ini dimulai.

Sudah dua jam berlalu, dan pengunjung semakin ramai. Semakin banyak pula yang ingin menemuiku untuk sekadar mengucapkan selamat, berfoto, meminta kartu namaku, menawar karyaku, dan ingin tahu siapa yang berani membuat pameran seperti ini. Kupikir akan ada banyak yang komplain, dan ruangan menjadi ramai karena orang-orang saling melempar api. Konyol memang. Untungnya pemikiran itu tidak terjadi di sini. Dan sekarang aku melihat mereka. Mereka benar-benar menikmati. Di antara mereka, ada dia yang tersenyum tipis. Kau memang pandai membuatku kalah, Riana, barangkali begitu isi kepalanya saat memerhatikan lukiasn pada kanvas terbesar di pameran ini. Lukisan yang menjadi induk dari semua lukisan yang ada. Lukisan yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk dituntaskan. Lukisan yang selalu membuatku diam. Diam untuk marah, diam untuk menyesal, dan diam untuk mencintainya teramat dalam.

Baca Juga: 3 Cara Menulis Dialog Dalam Cerita

*

Kanvas putih. Cat warna-warni yang mengkilap. Kuas halus berbagai macam ukuran. Tangan yang bergerak cepat. Mata yang selalu fokus. Bibir yang menghitam. Dan rokok yang selalu berasap. Sebelum lahir, dari dalam perut ibu, aku mampu melihat sosok ayah. Ia selalu menjadi pemandangan pertama setiap pagi. Balkon atas rumah kami menjadi titik terbaik untuk dirinya mengabadikan objek. Ketika berumur lima tahun, aku terbiasa mengintip ayah bekerja dari balik jendela demi menjaga konsentrasinya sampai kuas di tangannya benar-benar berhenti begerak. Tapi kali itu ayah memergokiku yang sedang mengintip.

“Riana mau melukis?”

Mulai saat itu, ayah mengajariku cara mengoleskan cat pada kanvas. Kata ayah, “Apa yang kita lihat sekarang tidak akan sama dengan apa yang akan kita lihat nanti, maka jadikanlah mereka abadi. Setidaknya, mereka akan mengingatnya kembali.” Meskipun saat itu aku sama sekali tidak mengerti maksud ayah, aku tidak peduli. Aku hanya ingin melukis seperti ayah, memadukan banyak warna pada kanvas putih yang polos menjadi bercerita. Di ulang tahunku yang keenam, ayah memberiku perlengkapan melukis. Itu perlengkapan pertama dalam hidupku.

Sejak aku memiliki perlengkapan melukis sendiri, aku semakin giat melukis. Tentu saja lukisanku tidak semenarik lukisan ayah, tetapi ayah selalu mengusap kepalaku dan berkata, “Teruslah mengabadikan apa pun yang menyejukkan ataupun menyesakkan penglihatanmu, Riana“. Setiap kali mengingatnya rasanya jemariku tidak ingin berhenti melukis. Namun, ada hal yang selalu kusesali, yaitu ayah tidak pernah melukis bersama-sama aku. Setiap kali aku mengajaknya, ayah selalu menolak. Kalaupun secara tiba-tiba aku berniat melukis di dekatnya, ayah pasti berhenti melukis lantas menemaniku. Alasannya hanya satu: ayah tidak bisa melukis tanpa rokok. Demi menjagaku dari terpapar asap rokok, ayah tidak pernah ingin merokok ketika aku berada di dekatnya. Aku mengeluhkan hal ini pada ibu, tetapi dengan menyesal ia selalu membela ayah.

“Apa tidak ada cara lain, Yah, untuk menjaga konsentrasi?”

“Hem… Ayah pernah menggantinya dengan kopi, tapi untuk meminumnya saja perlu mengalihkan mata Ayah dari kanvas.”

“Tidak usah dilihat kopinya.”

“Akan tumpah dan mengotori kanvas, Riana.”

“Kenapa tidak menggantinya dengan lolipop?”

“Nah! Mungkin itu akan lebih cocok untuk konsentrasimu.”

“Ayah, kalau rokok itu tidak mau mengalah biar aku saja yang mengalah.”

“Kamu ingin membuat Ayah dimarahi Ibu ya? Sudahlah sayang, berlombalah dengan tepat. Bukankah antar lawan itu sebaiknya duduk berjauhan?”

“Tapi kita tidak sedang berkompetisi, kan?”

Ayah mengacak-acak rambutku, dan tertawa. Sebelum meninggalkan kamar, Ayah mencium keningku dan bergumam, “Kau memang pandai membuatku kalah, Riana.”

*

Usia tujuh belas tahun adalah masa kejayaanku. Aku semakin sering mengikuti lomba melukis dan berhasil membawa pulang banyak piala. Kata ayah, aku tidak hanya pandai menggambar, tetapi juga bercerita. Meskipun tidak ada tulisan di dalam kanvas, orang-orang yang melihatnya bisa merasakan bahwa kanvasku bercerita. Sesungguhnya aku tidak terlalu menyadari itu. Yang betul-betul kusadari adalah ketika jariku menggenggam sebuah kuas, lalu mengoleskan cat berulang-ulang pada kanvas, aku merasa jiwa dan perasaanku terkoneksi dengan baik sehingga aku tidak perlu lagi melukis objek nyata yang ada di depan mataku, bahkan di ruang kosong pun aku bisa melukis.

Semakin dewasa, semakin banyak karya yang kuhasilkan, dan banyak juga prestasi yang kuperoleh. Namun, saat itu pula aku mulai menyadari bahwa ayah mengalami penurunan kesehatan. Beberapa kali kontes melukis yang kuikuti tanpa ayah bisa mendampingi. Ibu pun tidak, karena harus menunggui ayah di rumah sakit. Aku merasa bukan Riana si piyama pink saat menerima penghargaan sebab tanpa ayah yang selalu duduk di barisan depan dan memotretku dengan kamera tua kesayangannya.

“Ayah sakit apa, Bu?” tanyaku di suatu hari minggu yang sepi. Kami duduk berdua di depan kamar perawatan ayah.

“Kata dokter, Ayah sakit paru-paru.”

“Pasti akibat rokok, kan?”

Ibu diam saja. Ia memandang langit yang kebiru-biruan.

Aku melanjutkan, “Riana suka dengan semua lukisan Ayah. Tapi yang selalu Riana sesali kenapa harus ada rokok di tangan kiri Ayah?”

“Sudah kebiasaan Ayahmu sejak muda. Ibu tidak berhasil melarangnya sampai sekarang.”

“Kenapa Ayah tidak peduli dengan kesehatannya, Bu? Kenapa?” aku menangis dan memeluk ibu. Tuhan, tolong sembuhkan Ayah. Biarkan dia terus berkarya, tanpa rokok di tangannya.

Seminggu dalam tiap bulan ayah harus menginap di rumah sakit. Kondisinya kadang sangat baik dan kadang terlihat begitu buruk. Ayah sering kali batuk dan mengalami sesak napas. Paru-parunya sudah sangat rusak oleh rokok yang dikonsumsinya puluhan tahun. Ketika ayah sedang di rumah, ayah menghabiskan waktunya untuk melukis. Tapi ayah tetap saja merokok. Sesekali aku marah pada ayah, tetapi ayah tidak pernah mau dengar. Ayah hanya membalas dengan berkata, “Tuangkan saja emosimu pada kanvas.”

*

Kurang lebih selama satu tahun aku melihat ayah terus tersiksa dengan sakitnya yang tak kunjung sembuh. Namun, tak pernah pula kulihat ayah kehilangan semangat untuk terus berkarya, walaupun pada saat yang bersamaan ayah malah memperburuk keadaannya dengan rokok. Aku sudah lelah memperingatinya, dan aku sudah lelah menuangkan amarahku pada kanvas. Selain itu aku merasa jauh dengan ayah karena begitu menghawatirkannya.

*

Sore itu, ayah sedang memandang kanvas besar di ruang kerjanya. Aku melangkah ragu, takut kalau-kalau aku mengganggunya.

“Kemari Riana,” kata ayah saat menyadari keberadaanku.

Lega. Barangkali ayah memang tidak merasa terganggu. Tampak kanvas besar yang melukiskan sebuah senja yang sedang dinikmatinya kala itu. Namun, lukisan itu belum selesai. Masih banyak tersisa warna putih pada kanvas.

“Aku mengganggu Ayah? Aku tunggu sampai lukisannya selesai saja.”

“Tidak, Riana. Duduklah di samping ayah.”

Aku ragu.

Dan sebuah kalimat yang selalu terngiang dan tak pernah kulupakan itu keluar dari mulut ayah, “Kita selesaikan lukisan ini bersama.”

Aku hampir menangis mendengarnya. Impianku selama ini terwujud. Aku akan melukis dengan pelukis terhebatku. Segera kuambil kuas.

“Mana rokok Ayah?”

“Sudah Ayah matikan.”

Mataku berkaca-kaca. “Karena Ayah sudah mengizinkanku melukis bersama Ayah, aku tidak keberatan kalau Ayah ingin merokok. Meskipun aku sangat sedih melihatnya. Tetapi Ayah tenang saja, aku tidak akan melihatnya karena konsentrasiku hanya ada pada kanvas.”

Ayah terkekeh ringan.  “Kau memang pandai membuatku kalah, Riana. Konsentrasi Ayah kini ada pada putri piyama pink yang sudah beranjak dewasa.”

Aku memeluk Ayah erat. Aku merasa Ayah sangat kurus sekali dan begitu lemah. “Lalu, apa yang harus kutambahkan?”

“Lukislah ceritamu. Ayo kita selesaikan.”

Kami pun sibuk dengan menyeka kuas. Ayah memang andal dalam melukis alam. Panorama apa pun bisa dilihat dari sudut mana pun. Bagi ayah, tiap derajat sisi yang kita lihat menghasilkan pandangan yang bebeda-beda. Sedangkan aku lebih suka menggambar objek hidup menjadi kaku pada kanvas. Tidak hanya objek nyata, aku juga menambahkan imajinasi. Itulah sebabnya banyak yang menilai bahwa lukisanku selalu bercerita.

Belum lama waktu berjalan ketika kami mulai mengisi bagian-bagian putih pada kanvas menjadi berwarna. Tanpa sadar, ayah menjatuhkan lengannya di pahaku dan menimbulkan bekas cat pada celana yang kukenakan. Aku nyaris tidak mempedulikan sebab perhatianku penuh pada kanvas. Namun, tangan ayah tidak kunjung berpindah. Aku berhenti melukis dan melihat ayah sudah terpejam, bersandar pada kursi kayu yang didudukinya. Aku berteriak membangunkannya, menangis, menjerit, sampai ibu datang dan kami bersama-sama pergi ke rumah sakit. Aku tidak berhenti menangis, dan berdoa pada Tuhan.

Kulihat dari balik jendela, dokter dan perawat mengerubungi ayah. Mereka terlihat sangat sibuk. Kala itu aku hanya bisa menggenggam erat jemari ibu. Ya Tuhan, selamatkan ayah.

Tidak lama seorang dokter keluar dengan air muka menyedihkan. “Kanker paru-paru pada suami ibu sudah menjalar keseluruh tubuh, dan kiranya kami akan sulit menyelamatkan.”

Seluruh pasokan air mataku pecah, hatiku hancur tak tersisa, oksigen terasa sangat berat untuk dihirup. Kanker? Sejak kapan? Kenapa aku tidak pernah diberi tahu? Ya Tuhan, bolehkah aku marah?

Ibu sepertinya tahu apa yang ada di benakku. Ibu mencoba menjelaskan alasan mereka menyembunyikan hal itu. Sungguh rahasia mereka sangat tidak lucu. Aku anak satu-satunya, anak yang selalu mereka jaga, tapi aku juga tak pernah tahu rahasia itu.

Jasad ayah keluar dari ruang IGD. Kakiku benar-benar lemas. Terasa sulit untuk mengikuti mereka. Namun, aku tidak ingin tertinggal sedikit pun. Selama mengiringi ayah ke rumah, mataku dipenuhi siluet masa-masa indah bersama ayah. Saat pertama kali diajarinya melukis; ditemaninya hingga larut malam karena harus menyelesaikan lukisan yang akan dilombakan; diberinya pujian-pujian yang indah saat aku menang lomba; dimenangkannya aku dalam setiap kata kau memang pandai membuatku kalah, Riana. Ayah, kau sungguh pemenang sesungguhnya.

Baca Juga: Naskahmu Sering ditolak? Periksa 5 Hal Berikut

*

Ayah, saat kau berkata, “Apa yang kita lihat sekarang tidak akan sama dengan apa yang akan kita lihat nanti, maka jadikanlah mereka abadi. Setidaknya, mereka akan mengingatnya kembali.” Aku baru mengerti tepat saat kau tiada. Bahwa ketika usiaku 14 tahun kenapa aku lebih suka menggambar objek hidup? Sebab menurutku manusialah yang paling cepat berubah dan aku ingin mengabadikan setiap momen yang ada dalam benakku. Sekarang lihatlah ayah! Dari sekian banyak karya yang kuhasilkan, banyak ceritamu tergambar di sana. Bahkan, aku bisa mengingat sekecil apa pun perubahan yang kita lalui. Mulai dari kau mengajakku melukis, sampai lukisan terakhir kita yang harus kuselesaikan sendiri. Ayah, aku mengabadikanmu.

Ayah, saat kau berkata, “Teruslah mengabadikan apa pun yang menyejukkan ataupun menyesakkan penglihatanmu, Riana.” Aku hanya ingat dua hal, yaitu ayah dan rokok. Ayahlah yang selalu menyejukkan penglihatanku, dan rokok ayah selalu menjadi hal yang paling kubenci. Tapi kenapa keduanya harus ada pada dirimu? Lagi dan lagi aku mengabadikannya.

Ayah, saat kau berkata, “Tuangkan saja emosimu pada kanvas, Riana.” Aku melakukannya, ayah. Lihat, aku berhasil menyelesaikan lukisan kita, lukisan seorang bapak bersama putri piyama pink di sampingnya. Sang bapak sedang meremas rokok di tangan kirinya demi melindungi si putri piyama pink. Dibalut senja yang selalu cantik warna jingganya, mereka abadi. Semua lukisan-lukisan sosial bertema rokok ini adalah hasil emosiku.

Ayah, saat kau berkata, “Kau memang pandai membuatku kalah, Riana.” Aku ingin membuktikannya sekarang. Aku memang jauh lebih terkenal dari ayah dulu. Karya-karyaku lebih banyak dibandingkan milik ayah, kemewahanku melebihi milik ayah, tapi aku tahu bukan itu kemenangan yang ayah maksud.

Ayah, semoga ayah tidak tersinggung dengan pameran ini. Aku tetap mencintaimu. Tapi tenang saja, aku akan pura-pura tidak melihat meskipun itu akan sangat menyakitkanku.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

70 pemikiran di “Kanvas”