Molly

molly

“Aku mencintaimu, An, dan…. ya, Molly.” Aku melepaskan sepatu di depan pintu masuk. Ana begitu saja meninggalkanku setelah membukakan pintu. Ia berjalan cepat menuju ruang tamu, kembali menyalakan alat penyedot debu.

Aku masuk dengan hati-hati. Barangkali, pikirku, aku sudah membuat Ana marah dengan sikap tegas hari ini. Namun, aku bersyukur. Percakapan di depan pintu sebelumnya, justru lebih parah lagi. Perempuan itu mungkin tak mengizinkan aku masuk bila aku puguh dalam diam.

Penempatan yang payah dari tempatku bekerja membuat kami harus menjalani hubungan jarak jauh. Inilah yang membuat aku harus rela menjalankan rutinitas—sekaligus menunjukkan bahwa aku memang lelaki yang serius—yaitu menyambangi kontrakannya di kota Palembang, setiap akhir pekan dari stasiun Lahat kota. Sekarang di tangan kananku sudah terjinjing tiga bungkus kopi robusta bubuk, berserta sekotak donat bermerek yang baru saja kubeli di bagian muka sebuah area perbelanjaan. Ini adalah tanda permintaan maaf.

Ana tak juga mematikan mesin itu. Ia tak peduli. Barang sedikit melirik kepadaku pun ia tak mau. Aku memang kelelahan akibat mengendarai mobil selama tujuh jam. Namun, sekali lagi, aku patut bersyukur. Ia tak berteriak seperti saat kami berbicara lewat telepon tadi malam, dan kupikir dunia percintaan kami sudah akan kiamat.

“Jangan duduk di kursi plastik itu. Aku belum membersihkannya,” ujar Ana ketus. Kali ini ia mematikan mesin jahanam itu. Matanya seperti sebuah tangan, sementara aku berdiri tegang macam anak kecil yang siap ditempeleng ibunya.

*

Permintaan maafku diluluskan. Setelah percakapan yang didominasi oleh keheningan satu jam lamanya, Ana sudah tidak lagi meniadakanku dengan bantuan mesin penyedot debu itu. Meski jarak duduk kami masih berbatas lima kilan jauhnya, ia sudah mengizinkanku duduk di sisinya, menghirupi kopi yang masam, sambil menonton sebuah tayangan televisi.

“Akhir-akhir ini kita sering bertengkar,” kata Ana. Ia lebih nyaman memegang gelas kopinya dibandingkan menggenggam jemariku.

Aku diam saja. Takut salah bicara.

“Apalagi masalah yang kemarin.”

“Oh, ayolah. Jangan dibahas lagi,” aku mencoba protes.

“Jadi, kau tidak, masih, atau terpaksa untuk tidak keberatan?”

Aku tahu sikap Ana yang satu ini. Menjawab salah satunya, maka aku akan mendengar omelannya lagi.

“Begini,” aku berusaha mencari jawaban yang tulus, “Mari kita lupakan saja. Aku yang salah. Seharusnya aku jauh lebih mengerti kau.”

“Jadi benar kalau Molly kau izinkan tinggal di sini?” Ana mulai tersenyum.

“Tentu saja.”

Aku pikir kekasihku ini sudah gila. Terlalu gila. Ia sangat mencintai kucing jantan itu sampai-sampai sering ia ajak bicara. Entah apa yang istimewa dari makhluk aneh tersebut. Kusebut aneh karena ia berwarna hitam dan selalu menaruh pandang kepadaku bagaikan memperhatikan manusia jahat. Entah apa yang kucing itu pikirkan. Yang pasti aku tidak nyaman dengan sikap dinginnya, serta matanya yang selalu menyorot kepadaku—atau malah sesuatu di belakangku yang tak terlihat oleh mata awam?

Sebenarnya bukan itu alasan pertengkaran kami semalam. Astaga! Makhluk itu hanya kucing biasa. Terlepas apakah aku diikuti oleh sesuatu atau tidak, aku jauh lebih jengkel pada kucing itu. Bagaimanapun aku harus memanfaatkan ketidakmampuanku untuk selalu dekat dengan Ana, dengan cara menerima kenyataan bahwa kucing tersebut berasal dari pemberian mantan kekasihnya.

“Aku bisa membelikanmu seekor kucing betina, kalau kau mau. Yang lebih cerah, pesek, dan berbulu ekor lebat.”

Ana menggeleng. “Molly masih muda. Ia baru beberapa bulan.”

“Tapi badannya sudah sebesar itu.”

“Manusia juga sering menipu, kok. Penampilan yang membuat perempuan susah membedakan mana lelaki berusia lima belas tahun, mana yang tiga puluhan.”

Aku diam saja. Mengalah.

“Aku menyayangi Molly seperti anak sendiri! Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya melihat anakmu menikah muda dengan seseorang?”

Baiklah. Ini lebih gila. Sekarang aku punya pacar yang beranak seekor kucing?

“Kau pun harus jadi Bapak yang baik. Misalnya, jangan sesekali melirik perempuan desa. Aku tahu persis, gadis Lahat itu putih-putih, kinyis-kinyis, kayak merpati.”

Astaga. Entah dari mana hulu perkataan Ana. Kuhenyakkan terus umpatan untuk Molly dalam batin, karena kini Ana berpikir bahwa aku jelmaan kucing liar.

“Ngomong-ngomong di mana Molly?” tanyaku setelah ia berhenti dari gerutu panjang.

“Sedang tidur di lantai atas.” Ana menyerobot kopiku, kini kami sama-sama terdiam.

Baca Juga: 5 Sifat Negatif yang Melanda Penulis Pemula

*

Ana dan aku bukan orang asli Sumatera Selatan. Kami sama-sama berasal dari Cakung, Jakarta Timur. Ia ditugaskan di kota Palembang karena menempati posisi sebagai manajer sebuah perusahaan Waralaba. Sementara aku, lima bulan setelah itu, bekerja sebagai kepala gudang perusahaan kelapa sawit di Lahat kota.

Kami sudah berpacaran selama satu tahun. Namun, aku sudah menyimpan namanya sejak duduk di bangku sekolah menengah. Jadi bila disandingkan dengan perjuanganku untuk mendapatkan tempat duduk di dalam kepalanya, maka kebencianku pada Molly belum apa-apa.

Ada dua hal yang paling kuketahui tentangnya. Pertama, Ana adalah perempuan perajuk, keras kepala, pada beberapa keadaan ingin menjadi pemenang. Sifatnya yang satu ini malah membuatku tertarik. Perempuan ini membikin aku menaruh perhatian yang, bukan hanya lebih dalam, tetapi juga lebih bermakna. Inilah yang membuatku tak bisa lepas dari Ana, meski kami sudah berpisah bertahun-tahun lamanya, dan baru bertemu kembali pada saat mengikuti sebuah bursa kerja di bilangan Pulo Gadung dulu.

Kedua, yang aku ketahui setelah kembali dekat dengannya adalah Ana mencintai kucing seperti mencintai seorang bayi. Kini aku bisa memerhatikan itu dengan lebih jelas dari gayanya berbicara mengenai Molly. Aku bahkan pernah diceritakan oleh Ana tentang ini. Menurutnya Molly kucing yang cerdas. Ia bisa diajak berbicara tentang politik, ekonomi, dunia seni, sampai perihal diriku. Untuk hal yang terakhir itu aku ingat bagaimana Ana menyampaikannya padaku. Katanya, Molly tidak suka kumisku, karena itu tampak bagaikan ekor kucing yang kurang makan.

Mulanya aku tidak terlalu menaruh perhatian mengenai ini. Tidak untuk bagaimana kucing tersebut menatapku tanpa suara atau berkedip sedikit pun, atau perkataan Molly dalam versi Ana tentangku. Aku hanya berharap Ana bersikap realistis dengan melupakan pemberian mantan kekasihnya sekaligus tidak memandangku seperti kucing pula.

“Apa kau kekurangan sesuatu?” tanyaku.

“Apa kau membelikan sesuatu?” Ana balas bertanya.

“Aku akan datang pekan depan. Katakan kau mau menitip apa dari kota Lahat.”

“Apa sudah masuk musim durian?”

“Ya.”

“Baiklah. Belikan aku beberapa. Molly pasti juga menyukainya.”

Baca Juga: Naskahmu Sering ditolak? Periksa 5 Hal Berikut

*

Beberapa hari ini Ana sering sekali memancing hal-hal sepele untuk dijadikan bahan pertengkaran. Puncaknya ia memutuskan hubungan begitu saja melalui telepon genggam, semalam.

Aku tak lagi peduli bagaimana prosedur mengajukan surat cuti yang benar. Kukatakan saja aku memiliki keperluan mendadak untuk keluar kota. Itu pun akan kusampaikan ketika aku sudah kembali ke Lahat lagi nanti, karena aku memang tak sempat melakukan itu hari ini. Aku pergi ke Palembang malam-malam tadi.

Ini masalah masa depan. Aku harus memperbaikinya. Oleh karena itulah, kini aku sudah berdiri di depan pintu kontrakan Ana. Pagar rumahnya tidak dikunci, tetapi rumah dua tingkat itu tampak sepi. Ah, barangkali kekasihku itu pergi bekerja. Mau tak mau, aku harus menunggu sampai sore. Aku memutuskan untuk duduk di kursi di teras depan, dibandingkan harus berpengap napas di dalam mobil.

Sambil menunggu, aku tersadar tidak membawa apa-apa. Astaga. Aku tidak membawa sesuatu sebagai tanda penyesalan. Beberapa waktu lalu ia mau buah durian. Di mana aku bisa mencarinya sekarang—

“Kalau aku jadi kau, aku sudah curiga pada kekasihku.”

Aku tercenung. Itu suara dari mana?

“Ha…. lo?”

“Dia pergi bersama mantan kekasihnya semalam, dungu. Bego. Mereka bersenang-senang,” lanjut suara itu lagi. Suaranya makin jelas dari arah lantai, “Dengarkan saranku. Cukurlah kumismu yang tipis itu. Apa aku harus berbelasungkawa atau mencakarmu? Itu tampak seperti ekor kekasihku yang kurang makan. Dan ia sudah mati.”

Aku terenap. Tak percaya. Mulutku terngaga. Kepalaku terasa dingin. Sayangnya, ketika aku sadar bahwa telapak kakiku memang masih menginjak bumi, langit belum runtuh dari atas sana, dan belum sampai aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya macam-macam, Molly sudah berlalu.

Kucing yang berbicara itu masuk ke dalam rumah melalui pintu lipat di bawah kakiku.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

61 pemikiran di “Molly”